Pages

Subscribe:

Selasa, 13 Maret 2012

TEKANAN HIDUP

 
"Bersyukurlah atas tekanan dalam hidupmu, ia bagai pecut untuk menjadikanmu lebih KUAT” 
O jiwa yang rapuh, sadarlah:
Betapa sayangnya Tuhan padamu?
Dia memberimu tekanan, sebagai salah satu caranya menguatkanmu, menguatkan imanmu.
Sobat, hidup memang penuh tekanan, yang akan selalu ada.
Manusiawi bila engkau galau, hidup tanpa kegalauan is nothing.
Tapi perhatikan saat kegalauanmu itu, rasakan, ia membimbingmu untuk mengangkat tekanan hidupmu, mendorong motivasimu, meringankan bebanmu.
Perlahan tapi pasti,
hingga Kau menjadi pribadi yang KUAT dalam keimananmu.
“Bersyukurlah atas tekanan dalam hidupmu, ia bagai pecut untuk menjadikanmu lebih KUAT”.
Karena dalam keadaan yang penuh dengan tekanan.. Cenderung lebih mudah untuk menikmati perjuangan mencapai kemenangan.. Dan tidak jarang dalam kenyamanan justru sering menjadikan keterpurukan semangat dalam berjuang…
Pesan seorang Sahabat, :-)
“Jangan berdiam diri nerima keadaan gitu aja, jangan jadi kepiting yang nerima gitu aja nasibnya jalan kesamping
So,
Berjuanglah, mengangkat tekananmu itu bagai Superman mengangkat mobil #Hahaha word
Inilah kondisi yang tidak saya sukai, kondisi tubuh yang sedang tak bersahabat, lelah, yang berefek pada pikiran saya, yang bisa disebut “drop”. Rasanya sulit sekali untuk memunculkan ide di kepala, apalagi mengungkapkannya, terasa sekali, seperti sedang mengangkat bebatuan yang besar.
Sampai orang ini juga memberi Semangat pada saya, :mrgreen:
Otomatis, rasa percaya diri saya pun (sempat) menurun, bagaimana tidak? Saya tidak bisa berkarya, menulis pun susah, apa lagi belajar? Padahal saya sedang menghadapi UAS = Ujian Agak Serius, #Hahaha… :-( . Sumpah, ini seperti terjun bebas tanpa tahu bagaimana mengendalikannya.

Ya sudah, kalau sudah begini, tak ada cara lain selain DIAM.
DIAM, untuk menangkan pikiran.
DIAM, untuk melihat ke dalam diri.
DIAM, dalam heningnya malam.
DIAM, untuk mencari solusi.
DIAM, sambil mengingat Sang Pencipta Semesta.
Dalam DIAM, seketika batin ini berbisik, 1 kalimat yang sederhana namun menampar.
“Kau juga PERNAH SUKSES”
Saya paham, ternyata saya hanya perlu bergerak, dan terus bergerak. Untuk mengawalinya, saya mengambil resource kesuksesan saya di masa lalu, untuk saya hadirkan kembali SEMANGATnya saat ini.
Singkat cerita, saya memilih pengalaman saat menyelesaikan TA, SUSAH TAPI PASTI BISA, karena disana banyak pengorbanan, :-D
Demi masa sesungguhnya manusia itu benar- benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran..
Ternyata benar,
Kita harus bangkit!
Bangkit dan bergerak Maju.
Maju menuju harapan baru!
Disinilah saya menyadari, bahwa,
Di kehidupan ini tak ada yang sulit.
Cara pikir kita yang sulitlah,
yang membuat kehidupan menjadi sulit.
Saya juga ingin terbang, bagai Elang,
Flying like an Eagle

Keyakinanlah yang membuat manusia bisa terbang…
Terbang setinggi dan sejauh yang diyakininya…

PASTI BISA
Mohon maaf, posting ini berantakan dan amburadul, :-)
Don’t judge the book from the cover, meskipun “cover” menjadi salah satu faktor penting agar menarik perhatian namun tak selamanya cover menjadi kunci bagus/tidaknya isi suatu buku.
Tapi saya tidak sedang membahas buku, tapi sedikit membahas apa yang ada di sekitar kita saja, saya jadi teringat pesan-pesan Pak Ustadz dulu kala, bahwa kita harus pandai-pandai dalam mengenali orang, jangan terpaku pada penampilan semata.
Jangan pula merasa minder hanya karena strata, jabatan, ekonomi dan sebagainya, karena semua makhluk adalah SAMA di mata ALLAH SWT, hanya amal dan ibadahnya yang membedakan.

Saya tertarik dengan yang kemarin marak diberitakan tentang pembubaran ormas tertentu, mengatasnamakan ISLAM sebagai dalilnya maka ini kesimpulan (sementara) saya :
  1. Bila ke-islaman seseorang ditentukan oleh sorbannya, tentu Abu Lahab lebih islami, begitu juga mirza gulam ahmad.
  2. Jika indikasi islami adalah baju koko maka semua sahabat-sahabat saya yang sipit di shanghai sana, jauh lebih islami.
  3. Jika indikasi islami adalah pendidikan dan gelar maka kaum liberalis masuk surga, dan kaum orientalis masuk surga.
  4. Kalau ke-islaman dilihat dari garis keturunan, alangkah betapa tak beruntungnya ras kulit kuning dan hitam.
  5. Untungnya, ISLAM tidak memandangnya dari gelar-pendidikan, keturunan, bagusnya pakaian, harta, dsb.
  6. Seorang muslim ditentukan dari Sikap dan Ucapannya yang selaras, serasi dan seimbang sesuai QUran dan Hadist.
  7. Seorang Hafidz Quran bila dalam ucapannya sangat berbeda dengan Qur’an,  tidak bisa disebut islami.
  8. Sebaliknya jika hanya Bocah SD namun mampu berbicara sesuai Quran dan Hadist, terimalah.
  9. So, tak selamanya fisik menjadi ciri ke-islaman seseorang.
Begitu juga dalam hal-hal yang bersifat umum, orang yang tampil islami belum tentu bersikap islami, orang dengan berjas putih belum tentu seorang dokter, orang yang bertato belum tentu seorang preman, dsb.
Lisan dan Perilaku haruslah seimbang.
  1. Apalah guna mulut berucap “Allahu Akbar,, Allahu Akbar” namun tubuh menganiaya, merusak, membakar dengan penuh ke-dzaliman.
  2. Sekali pun tempat itu sarang maksiat, sekalipun yang kau aniaya seorang pelacur, ia tetap manusia, yang memiliki hak hidup.
  3. Tempat hanyalah tempat, dengan mengisinya melalui aktifitas positif maka energi pun menjadi positif, tak perlu merusak dan membakar, !!
  4. Lebih bijaksana, dengan bekal islami yang dimiliki alangkah lebih indah mengajak mereka yang tersesat dalam lingkaran setan, kemaksiatan, untuk kembali mengenali ALLAH, kembali ke jalan ILLAHI, Jalan yang putih nan suci.
  5. Karena tidak ada AGAMA dalam kekerasan, dan tidak ada kekerasan dalam AGAMA.
Sobat, mohon maaf jika posting ini amburadul, mohon maaf jika tidak berkenan, namun jika sependapat mohon di doakan untuk kebaikan sesama, amiin… karena saya hanya manusia biasa, kesempurnaan dan kebenaran hanya milik ALLAH.
Last, teringat dengan sebuah doa sederhana “Ya Robb, jadikanlah hanya kebenaran yang keluar dari lisan dan laku-ku”, Amiiinn…

ibu :*

Ibu, aku ingat akan pesanmu, untuk senantiasa menjaga perasaanmu. Karena aku SADAR, bahwa tiap helai putih di mahkotamu, adalah tanda pengorbananmu selama ini.
Ibu, aku selalu ingat pesan-pesanmu, agar aku cepat dewasa dengan menjadi pribadi yang BAIK, agar aku bisa menjaga dan melindungimu.

Ibu, aku ingat dengan jelas pesan-pesanmu, untuk tidak terburu-buru mencari pasangan | Mungkin jelas bagiku masa depanku, namun Ibu yang lebih jelas melihatnya.
Ibu, aku ingat akan pesan-pesanmu, untuk senantiasa memperdalam agama, karena Ibu tahu suatu saat Doaku akan dibutuhkan.
Ibu, aku ingat akan pesan-pesanmu, agar aku menjadi pribadi yang ikhlas dan tulus | Layaknya TANAH yang tak pernah marah walau terus diinjak, bagai MATAHARI yang selalu menyinari, dan bagai BULAN yang senantiasa menerangi malam.
Ibu, maafkan aku bila hingga detik ini pesan-pesanmu belum sepenuhnya ku lakukan | Maafkan aku jika hingga detik ini, aku masih tenggelam dalam kelalaianku.
Ibu, TERIMAKASIH atas doamu yang tak pernah terhenti hingga saat ini. Semoga ALLAH memberimu kesehatan dan keberkahan atas jasamu dalam hidupku, Amiiiinn….
Sujudku untukmu, Ibu…

" DIA "


Disaat kita udah memiliki sesuatu yg indah , kadang kita ga sadar kalau kita memilikinya. Dan kita Baru sadar saat kita kehilangannya. saat ini (sebenarnya ga saat ini doang) gue ngerain Hal itu. Saat dulu punya "seseorang" yg menyayangi gue sepenuh hati, tulus, Dan melihat gue "pure" dengan gue apa adanya, gue malah ga bisa ngejagain "dia" melepas dia untuk pergi Dr sisi gue.

Sekarang setelah "dia" gak ada, ya gue ngerasa sepi juga ini hidup gue. Ga ada penyemangat, ga ada yg ngangenin Dan dibikin kangen, ga ada yg bisa diajak share secara personal, ga ada yg bisa memahami gue seperti "dia" lagi.

Semua emang berjalan sangat singkat, bahkan ga berasa apa-apa mungkin (karena gue ga pandai ngasih kesan Dan experience yg bagus sama SESEORANG), tapi buat gue, waktu yg singkat itu ngasih banyak Pelajaran buat gue. Dimana seorang GUE itu ga boleh ngebiarin orang yg bener-bener sayang sama dia pergi atau lepas.

Pada saat itu emang gue 100% belum siap kali ya ngejalanin yang begituan. Really, I'm so stupid about "it". Jika ada Hal yg paling ga bisa gue lakuin yaitu "menjalin hubungan sama DIA". I feel so dumb, so freaking out and so ridiculous if I met someone who I ♥. Never act as normal person. Yeahh that's who I am.

Tapi setelah dia ga ada, gue dapet satu lagi Hal berarti. Untuk disayangin sama SESEORANG  ga perlu jadi orang lain. Jadi diri sendiri, karena SESEORANG yg bener2 sayang sama kita ga akan memperdulikan diri kita yang sebenarnya. "If I ♥ you, so I ♥ you" that's the rule of ♥, no matter what is it.

Sekarang, gue hanya ingin "menutup" semuanya.

Berat emang, tapi ya biarlah. Gue harus bisa. Bukan berarti gue langsung harus Cari penggantinya. Tapi gue harus bisa relain dia saat dia udah sama orang lain nanti.

THX for everything that you give to me whichis I can't give back to you yet. (may be never).

Just it for tonight. Hope tomorrow my mind will be erased.