Pages

Subscribe:

Rabu, 14 Maret 2012

Puasa dan Korupsi

ADAKAH hubungan antara puasa dan korupsi? Jawabannya: Ada. Puasa adalah ibadah untuk bersikap jujur. Apabila kejujuran telah tertanam dalan jiwa, maka ia tidak akan melakukan korupsi.
Secara sederhana, puasa adalah menahan diri dari segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa. Mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Menahan diri di sini bukan hanya tidak makan dan minum. Tapi dari segala hawa nafsu. Makna yang terkadung di dalamnya sangat luas.
Pada prinsipnya menjaga pahala puasa jauh lebih sulit daripada menjaga puasa agar tidak batal. Menjaga puasa cukup dengan tidak memasukkan sesuatu ke dalam rongga yang ada pada tubuh kita seperti rongga mulut, hidung, telinga dan lainnya (lihat hal-hal yang membatalkan puasa). Sedangkan menjaga pahala puasa seperti menahan diri dengan tidak melihat yang haram, menjaga lidah untuk tetap berkata jujur, menjaga pendengaran untuk tidak mendengarkan hal-hal yang buruk. Kalau ini tidak ditaati, puasa kita justru tidak lebih dari sekadar menahan lapar dan dahaga.
Puasa adalah ibadah yang sangat pribadi dalam artinya tidak ada orang lain yang mengetahui apakah kita berpuasa atau tidak, kecuali Allah swt dan kita sendiri, sehingga kita dilatih untuk tetap jujur. Meskipun tidak seorang pun mengetahui ibadah puasa yang sedang kita jalankan, namun kita meyakini Allah Maha Melihat atas setiap tindakan yang kita lakukan. Di sinilah inti dari berpuasa, melatih untuk bersikap jujur agar tercipta manusia berahklak mulia dan berpribadi baik.
Lantas bagaimana dengan korupsi yang terus menggila meskipun saban tahun kita dilatih untuk jujur dengan berpuasa? Sebelum mengurai tentang hal itu, terlebih dahulu perlu dipahami apa itu korupsi. Secara sederhana, korupsi adalah perbuatan melawan hukum, penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana, memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi dan merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Dari definisi tersebut jelas terlihat korupsi merupakan suatu tindakan keji, tidak mengedepankan sikap yang Islami. Makanya korupsi layak disebut kejahatan luar biasa atau penjajahan ala modern. Karena dengan korupsi rakyat kehilangan kesempatan untuk menikmati haknya, kesejahteraan.
Korupsi atau yang sering disebut “white collar crime” atau kejahatan kerah putih merupakan suatu kejahatan yang dapat merusak tatanan kehidupan masyarakat, roda pemerintahan dan menghambat pembangunan. Korupsi juga merupakan wabah penyakit yang sangat sulit diberantas. Banyak bukti yang bisa menguatkan hal itu, salah satunya terlihat dari putusan bebas terhadap terdakwa korupsi dengan alasan telah mengembalikan kerugian negara. Padahal jelas-jelas dalam aturan disebutkan mengembalikan kerugian negara tidak menghapuskan tindak pidana.
Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD mengatakan Indonesia sedang dalam situasi bahaya dan terancam. Ini disebabkan masih banyaknya kasus korupsi dan tidak berjalannya pemberantasan korupsi. Kata Mahfud, ada dua jenis penyanderaan yang menyebabkan korupsi sulit untuk diberantas. Pertama, diatur supaya tidak ada yang tahu kecuali dia yang berkepentingan. Sehingga, kalau pelaku korupsi tertangkap, dia bisa menyangkal tidak ada bukti dan saksinya. Kedua, semua orang sudah disandera, sehingga pemberantasan korupsi tidak berjalan. Mulai dari yang atas hingga ke bawah dan tidak berani berteriak (keterangan Mahfud MD dilansir vivanews.com).
Kembali pada persoalan puasa, yang seyogianya menjadi latihan untuk menciptakan manusia jujur, justru hanya mendapatkan kegagalan. Bukan karena puasanya, tapi disebabkan orang yang berpuasa menjadikan puasa sebagai ritual keagamaan saja, sebulan dalam setahun. Puncaknya bersalam-salaman di hari yang fitri. Pasca hari raya, manusia kembali pada perilaku-perilaku yang keji seperti sebagaimana kebiasaannya sehari-hari. Termasuk merampas hak rakyat.
Untuk itu, kita berharap puasa tahun ini hendaknya benar-benar menjadi latihan berharga untuk mewujudkan insan yang jujur, mulia dan berahklak Islami, sehingga puasa tahun ini tidak sekadar dijadikan sebagai ajang ritual belaka. Apalagi kalau sekadar bermewah-mewah di kala waktu berbuka.[]

0 komentar:

Posting Komentar